MNAM Blog


Tempat berbagi cerita bergenre drama

Sahabat - Bagian 12 (Edisi Spesial)

Written by M Nafis Al Mukhdi | 18 Jun 2017 14:27
"Sudah kubilang, aku tersandung" kata Hafidh

"Sudah kubilang juga, kau jangan berbohong, Fidh" kata kepala sekolah

"Apa maksud anda, pak kepala?" kata Radit

"Mr. Dane, tell him that Hafidh was tackled" kata kepala sekolah

"Anda tidak perlu menerjemahkan nya, pak Dane" kata Radit

"Apa maksudmu?" kata pak Dane

"Walau kami baru berteman 2 tahun setengah, tapi kami sudah berbagi banyak hal"

"Termasuk Bahasa Inggris"

"Aku paham, bahwa dia di-tackle"

"Pertanyaanku hanya satu, oleh siapa?" tanya Radit

"Siswa disana cukup banyak, aku tidak dapat mengingat semuanya" kata kepala sekolah

Kepala Sekolah pun berdiri

"Tunggu sebentar" kata pak Dane

Pak Dane mengambil sesuatu di bagasi mobilnya

.

"Sebenarnya apa tujuanmu, Dah?" tanya Kepala Sekolah

"Tujuanku adalah memusnahkannya sekaligus kau" kata Bu Idah sambil menodong pistol lagi

"Tunggu juga sebentar" kata Kepala Sekolah

Kemudian, Kepala Sekolah merogoh sesuatu di saku beliau

"Ini kan, yang kau cari dulu" kata Kepala Sekolah sambil menunjukkan kalung emas dengan huruf I

"Kalungku" kata Bu Idah

"Dimana kau menemukannya, bukankah kau menjualnya?" tanya bu Idah

"Hah?" kata Hafidh dan Radit

.

Pak Dane masih mencari sesuatu di bagasi mobilnya. Tiba-tiba, adiknya datang.

"Adikku" kata Pak Dane sambil langsung memeluknya

"Biarkan aku bicara dengan mereka" kata adik Pak Dane

"Silahkan, lagipula aku masih mencari sesuatu di bagasi mobilku" kata Pak Dane

.

"Fidh, lihat. Pak Dane memeluk seseorang" kata Radit

"Aku yakin itu adik beliau" kata Hafidh

"Hm?" kata Kepala Sekolah sambil menengok ke arah pandangan Radit

.

"Bu, lempar senjata anda kesini" kata adik Pak Dane

Izul pun mengambil pistol ibunya dan menembak ke arah adik Pak Dane.

"Dorr"

Hebatnya adik Pak Dane dapat menghindar, kemudian berteriak "Kak, awas!"

Pak Dane pun refleks mundur, dan

"Prang"

Ternyata pelurunya mengenai kaca

"Ah, ketemu!. Akhirnya.." kata pak Dane

"Terimakasih atas tembakan tadi" teriak Pak Dane

"Hah?" kata Bu Idah

Adik pak Dane pun mengambil pistol dari tangan Izul dengan kelincahannya dan langsung mengamankannya

"Siapa dia?" kata Izul

"Lama tidak bertemu, tuan detektif" kata Kepala Sekolah

.

"Biar kutebak, sebenarnya kalung yang anda pegang itu sama sekali tidak anda jual. Anda hanya mengambilnya" kata adik Pak Dane

"Lucunya, itu mengakibatkan perceraian" kata Kepala Sekolah

Bu Idah pun tiba-tiba berlutut dan berkata "Astaghfirullah"

"Tunggu, anda Islam?" kata Hafidh

"Ya" kata Bu Idah

"Berarti, aku bukan satu-satunya murid Islam disini" kata Hafidh

"Sebenarnya, saya juga islam. Saya mengambil kalung itu untuk mengubah sesuatu. Huruf I itu malah mirip salib" kata kepala sekolah

"Saya juga islam" kata Radit

Kepala Sekolah pun menengok Radit

"Ceritanya panjang. Intinya saya dipaksa, namun saya sering berbohong" kata Radit

"Biar ku tebak, kau dipaksa orang tua angkatmu untuk masuk kristen, padahal kau terlahir islam, dan bahkan sampai umur 7 tahun. Tapi karena orang tua kandungnya menghilang, ada sepasang suami-istri yang mengangkat dia jadi anaknya" kata adik pak Dane

"Kau memang detektif ya" kata Radit

.

"Nah Fidh, hadiah dari bapak" kata pak Dane sambil membawa kursi roda

Radit pun mengangkat Hafidh dan mendudukkannya di kursi roda tersebut

"Terimakasih, Dit" kata Hafidh

"Sama-sama" kata Radit sambil tersenyum

"Darimana anda mendapatkan kursi roda ini?" tanya Hafidh

"Aku mendapatkan gratis dari rumah sakit" kata pak Dane

"Dia dulu tertembak, saat masih di Amerika Serikat. Pelakunya ternyata teman sendiri" kata adik pak Dane

"Aku jadi iri sama kalian, Hafidh dan Radit" kata pak Dane

.

"Maafkan aku ya, Fidh" kata Izul

"Tentu" kata Hafidh sambil tersenyum

.

Tiba-tiba ponsel Hafidh berdering, dia pun langsung mengangkatnya

"Nak, segeralah pulang, kita hari ini pindah rumah" kata Ibu Hafidh

"Tapi bagaimana sekolahku?" kata Hafidh dengan suara pelan

"Berhentilah, lagipula sekolah itu angker" kata Ibu Hafidh

"Baiklah" kata Hafidh dengan suara pelan lagi

.

"Rumah sedekat ini, bawa ponsel?" kata Radit

"Ibuku yang menyuruh, beliau berkata agar aku bisa menghubungi beliau jika cederaku kambuh lagi" kata Hafidh

.

"Oh ya, aku pulang dulu" kata Bu Idah

"Silahkan" kata Kepala Sekolah

Bu Idah pun kembali menaiki helikopter sambil memasang kalung tadi

.

"Oh ya pak kepala sekolah, saya ingin berhenti dari sekolah ini" kata Hafidh

"Hah?" kata pak Dane dan Kepala Sekolah

"Kenapa?" kata Kepala Sekolah

"Kami harus pindah" kata Hafidh

"Baiklah, kami harap kami bisa bertemu lagi denganmu" kata Pak Dane

"Tentu" kata Hafidh

.

BERSAMBUNG
https://www.wapblog.id/user/log?red=http%3A%2F%2Fmnam.wblog.id%2Fsahabat-p12-spec.xhtml&auth=11142